Tips Mengambil Utang yang Sudah Terbukti Berhasil

tips mengambil utang

Penting! Pelajari tips mengambil utang yang jitu ini. Saat ini Anda mungkin sedang berpikir-pikir ingin membeli sesuatu yang diinginkan, entah itu rumah, mobil, motor, gadget, produk keuangan, atau barang lainnya.

Namun ternyata anda tidak memiliki uang yang cukup untuk pembelian tersebut, mungkin dananya ada, tapi terlalu sedikit, atau betul-betul tidak memiliki uang tunai sama sekali padahal barang yang ingin dibeli dirasa penting.

Mungkin anda mulai berpikir dan mempertimbangkan untuk mengambilnya secara kredit. berikut sejumlah tips buat anda yang ingin mengambil utang.

Tips Mengambil Utang yang Paling Utama adalah Pilih Dengan Siapa Anda Berutang

tips buat anda yang ingin mengambil utang

Ketika ingin berutang atau membeli sesuatu dengan cara kredit, di pikiran kita sering kali lebih terfokus pada bagaimana caranya agar permohonan utang kita disetujui.

Terkadang hanya agar permohonan utang dapat disetujui, kita seringkali melakukan sedikit kebohongan-kebohongan kecil, seperti jumlah penghasilan, lama bekerja, atau hal-hal semacam itu.

Padahal mungkin kita lupa bahwa ada perjuangan baru yang harus segera dilakukan setelah mendapatkan pinjaman atau kredit, yaitu bagaimana caranya supaya bisa membayarnya kembali.

Banyak orang yang tidak bisa lancar saat membayar kembali utang-utangnya atau kredit macet.

Penyebabnya sangat bervariasi, bisa dikarenakan jumlah angsurannya yang terlalu tinggi dan tidak sebanding dengan kecilnya penghasilan, atau dapat juga karena tiba-tiba terkena PHK dari tempatnya bekerja.

Nah, repotnya, pihak yang anda utangi sering kali tidak mau tahu masalah yang dialami oleh nasabahnya. mereka hanya ingin utang-utang yang mereka berikan bisa dibayar.

Bahkan tidak semua pihak yang anda utangi itu mau menerima negosiasi seperti mengajukan perpanjangan masa pengembalian atau mengurangi bunga serta denda yang dikenakan.

Oleh sebab itu, tips dari kami untuk anda ketika ingin berutang atau membeli sesuatu secara kredit, pilihlah pada siapa anda ingin berutang atau membeli sesuatu secara kredit.

Carilah pihak yang fleksibel dalam bernegosiasi kalau anda sedang tidak mampu membayar (padahal anda benar bermaksud ingin membayar).

Lalu pihak mana saja yang sulit diajak untuk bernegosiasi dan siapa yang lebih fleksibel?

Berikut urutannya. Dimulai dari pihak yang sulit diajak negosiasi sampai pihak yang paling fleksibel.

  1. Rentenir
  2. Perbankan
  3. Pegadaian
  4. Perusahaan Pembiayaan (leasing, leaseback dan multifinance)
  5. Kantor atau koperasi kantor
  6. Teman atau Saudara
  7. Orang tua atau mertua
  8. Pasangan

Jadi ingatlah, dengan siapa anda berutang akan menentukan bagaimana “nasib” keuangan anda kedepanya bila kelak anda sedang tidak bisa membayar kembali semua utang-utang.

Ambil Cicilan Utang yang Sesuai dengan Penghasilan

cara cepat melunasi hutang dalam 1 hari

Bukan satu dua kali kita mendengar bahwa hanya karena ingin mendapatkan pinjaman uang, seseorang menyanggupi jumlah cicilan yang besar.

Mungkin ia lupa bahwa jumlah angsuran yang tinggi atau tidak sesuai pendapatan justru akan memberatkan kondisi finansialnya.

Contohnya, ada orang yang kadang menyanggupi kredit pembayaran kulkas sebesar Rp 750 ribu sebulan, padahal penghasilannya tidak sampai Rp 1,5 juta per bulan.

Bahkan orang ini juga berani mengambil lagi satu utangan baru yaitu kredit motor sehingga penghasilannya sendiri tidak banyak tersisa.

Tips dari kami untuk anda, cobalah mengambil utang yang cicilannya memang sesuai dengan penghasilan anda.

Baca juga: Tips Membeli Mobil Baru Secara Kredit untuk Pemula

Jangan sampai gara-gara membayar tunggakan, penghasilan anda hanya tersisa sedikit lalu tidak ada yang ditabung apalagi dinikmati.

Saran dari kami, usahakanlah total cicilan utang hanya mencapai 30% dari keseluruhan penghasilan bulanan anda.

Katakan saja gaji anda sebesar 1 juta rupiah perbulan, ini berarti kalau mengambil utang atau membeli sesuatu secara kredit, anda hanya bisa mengambil cicilan sebesar maksimal 300 ribu rupiah perbulan.

Ada kelebihan sedikit masih bolehlah, tidak perlu terlalu kaku, yang penting masih di sekitar 30% dari total penghasilan anda.

Lalu bagaimana kalau anda ingin mengambil dua atau tiga utang baru? boleh asalkan total cicilannya tetap sekitar 30% dari Rp 1 juta. mungkin cicilan barang A sebesar Rp 200 ribu sebulan, sedangkan cicilan barang B Rp 100 ribu perbulan.

Jika tidak sampai diangka itu, usahakan pilih barang yang sejenis namun harganya masih lebih ringan daripada barang yang awal tadi.

Manfaatkanlah internet untuk membandingkan harga dari setiap barang, apalagi sekarang kita sudah dimudahkan melakukan kredit di banyak marketplace online.

cara mengatasi hutang yang menumpuk

Lalu pertanyaannya, kenapa sih kita harus memakai aturan 30%? Kalau anda menggunakan sekitar – katakanlah 60% dari total penghasilan bulanan hanya untuk membayar cicilan, dampak positifnya ialah utang anda memang akan cepat lunas, tetapi anda tidak bisa membayar semua pengeluaran yang lainnya.

Efek buruknya adalah kebutuhan keluarga di rumah tidak bisa terpenuhi, lalu konsentrasi kerja anda terganggu.

Bayangkan saja, jika gaji anda saat ini cukup tinggi, tapi anda tidak bisa menikmatinya karena sebagian besar digunakan untuk membayar cicilan, maka sama saja Anda menyiksa diri.

Namun akan lebih baik apabila ada sebagian yang ditabung atau melakukan investasi kecil-kecilan.

Kebanyakan orang dalam membayar cicilan sering kali tidak bisa membayar kembali seluruh utangnya karena biasanya lebih mendahulukan untuk membeli barang kebutuhan.

Akhirnya, uang untuk bayar cicilan sudah terlanjur terpakai untuk membeli kebutuhan rumah tangga sehingga tidak ada dana lagi yang tersisa untuk membayar angsuran.

Perhatikan Prosedur Pembayaran Utang

Pernahkah anda melihat orang yang sering kesulitan membayar cicilan utang?

Bukan karena orang itu tidak sanggup membayarnya, atau bukan juga karena cicilan utangnya jauh melebihi aturan 30% dari penghasilan, namun diakibatkan hal lain yang kadang sering disepelekan oleh calon debitur.

Lalu apa penyebabnya?

Yaitu prosedur pembayaran yang tidak disesuaikan dengan kondisi finansial si peminjam.

Anggap saja anda mendapat gaji sekitar tanggal 25 setiap bulan dan kebetulan mempunyai utang yang cicilannya wajib dibayar setiap tanggal 20.

Katakan saja pada periode tanggal 15-20 setiap bulan, kira-kira apa yang akan terjadi?

Pertama tentu Anda akan dikenakan denda perharinya, memang biasanya cukup kecil jika masih dalam hitungan hari tapi lebih baik dihindari,

Hal lainnya yaitu banyak orang yang bukannya langsung membayar cicilannya tersebut ketika mendapatkan gaji, tapi keburu menghabiskan uangnya untuk dibelanjakan.

Kalau gaji tanggal 25, sementara bayar utangnya tanggal 15-20 bulan depannya, wajar saja kalau anda tergoda untuk memakainya terlebih dahulu sampai akhirnya uang anda habis.

manajemen pembayaran hutang

Jadi jika gaji anda diperoleh setiap tanggal 25, kenapa anda tidak mencoba “menawar” agar periode pembayaran utang bisa diubah ke tanggal 27-30? atau 1-5?

Ingat, keterlambatan pembayaran utang sering berakibat denda yang sebenarnya tidak perlu, walau masih hitungan kecil.

Ini merupakan saran yang cukup baik bagi Anda, lebih baik hindari yang namanya pinjaman atau kredit tanpa agunan (KTA) karena bunganya tidak masuk akal.

Selain itu prosedurnya pun juga sangatlah rumit serta mengenakan BI Checking sebagai syarat utama pengajuan.

Sebaiknya pilih pinjaman dengan menggunakan jaminan seperti layanan gadai BPKB mobil, motor atau sertifikat (SHM / SHGB) karena lebih cepat cair dan bunganya jauh lebih rendah dibandingkan KTA.

Dari segi kecepatan cair pun, kredit multiguna masih lebih unggul dibandingkan fasilitas loan lainnya.

Demikianlah artikel mengenai tips buat Anda yang ingin mengambil utang ini kami sajikan, semoga bisa bermanfaat bagi banyak orang.

Mohon di share informasi ini apabila berguna bagi sesama, terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.