Apakah Job Fair Hanya Ajang Eksploitasi Bisnis

Apakah Job Fair Hanya Ajang Eksploitasi Bisnis

Apakah anda sudah lihat gambar di atas? Apa yang ada dipikiran anda setelah melihatnya dan membaca judul artikel ini?

Ya, pasti yang ada di benak anda saat ini adalah begitu banyaknya pencari kerja di negeri ini namun lowongan yang tersedia sangat sedikit sekali.

Atau, mungkin bagi anda yang akan mengikuti acara tersebut akan bertanya-tanya kembali, “apakah mungkin saya bisa mendapatkan pekerjaan jika mengikuti kegiatan seperti itu?”

Bagi banyak orang, mengikuti job fair dianggap salah satu cara untuk mencari lowongan kerja, namun apakah dengan mengikuti kegiatan tersebut anda sudah pasti mendapatkan pekerjaan.

Pasti anda akan menjawab belum tentu. kalau tidak mendapatkan pekerjaan dari job fair yang sudah diikuti, apakah anda akan mengikuti lagi kegiatan yang serupa?

Saya yakin 99% para pembaca artikel ini akan menjawab YA. Ok, memang seperti itulah jawaban yang harusnya keluar, karena untuk mendapatkan pekerjaan adalah hal yang tidak mudah, apalagi pekerjaan impian.

Hal tersebut jugalah yang memunculkan banyak sekali penyelenggaraan job fair (setiap tahun ada puluhan bahkan ratusan kegiatan yang serupa).

Fenomena munculnya banyak penyelenggara job fair inilah yang akan menjadi tema sentral pembahasan kita pada artikel ini.

Dari sudut kontribusi penyelenggaranya bisa diklasifikasi jadi beberapa kategori kualitas hasil.

Kualitas hasil pertama adalah kondisi paling ideal yang sangat diharapkan oleh semua pihak yang berkepentingan (job seeker, perusahaan pemakai langsung, atau penyalur SDM potensial yang profesional, pemerintah secara umum).

Adapun yang menjadi indikator keberhasilan dari masing-masing pihak yang memiliki kepentingan ialah sebagai berikut

contoh cv untuk job fair

  • Job seeker atau pencari kerja: Bagi mereka yang bisa memperoleh solusi untuk menemukan lowongan kerja sesuai dengan harapan dan segera bisa dipanggil mungkin sudah cukup, apalagi jika tidak dipungut biaya masuk alias gratis (biasanya sih bayar).
  • Perusahaan pencari tenaga kerja: Kepentingan utama bagi perusahaan yaitu bisa mendapatkan kandidat potensial yang berlimpah dan sesuai klasifikasi. Biasanya ini menjadi indikator sukses atau tidaknya perusahaan dalam mengikuti kegiatan tersebut karena mereka akan membandingkan mana yang terbaik, apakah melalui job fair atau pasang iklan di koran.
  • Pemerintah / Kemnaker: Apabila bursa kerja tersebut berhasil mendapatkan respon positif dari semua pihak yang terlibat selama kegiatan, maka hal itu bisa menjadi rekomendasi untuk kelanjutan kegiatan berikutnya.

Kualitas hasil kedua adalah kondisi paling tidak ideal yang sering terjadi di lapangan, dimana masing-masing pihak tidak mendapatkan hasil sebagaimana yang diharapkan

peluang diterima kerja lewat job fair

  • Job Seeker atau para pencari kerja: karena harapan mereka tidak kesampaian maka akhirnya timbul anggapan atau kesimpulan bahwa masuk job fair hanya akal-akalan penyelenggara alias hanya ingin melegalkan bentuk eksploitasi pencari kerja yang demikian melimpah di negeri ini, bayangkan saja jika satu kali job fair mampu menyedot 12.000 orang pencari kerja, dengan biaya masuk per orang @Rp 30.000 (bahkan ada yang tega sampai 50.000 rupiah) berarti terkumpul dana cash sebesar ratusan juta dalam waktu singkat. Luar biasa kan?.
  • Perusahaan pemakai langsung: Karena satu dan lain hal, akhirnya perusahaan yang telah rela berpartisipasi membuka stand mengeluh karena dua hal, pertama jumlah pengunjung yang hanya segelintir saja (pernah sebuah event job fair di sebuah gedung mewah hanya dihadiri oleh ratusan orang saja) atau yang kedua sekalipun jumlah pengunjungnya berlimpah bak pasar malam tapi kualitas SDM yang terjaring jauh panggang dari api alias hanya mendapatkan SDM bermasalah.
  • Pemerintah / Departemen terkait: Jelas hal ini hanya akan membuat permasalahan baru.
  • Penyelenggara / EO: Sepengetahuan penulis di lapangan, penyelenggara / EO kagetan biasanya tumbang di pertunjukkan perdana alias maksud hati sanggup menjaring masa pencari kerja, tapi apa daya hanya segelintir yang berkenan hadir, malah konon ada yang sejumlah petugas keamanan yang arogan dan berpenampilan ala agen rahasia jauh lebih banyak dari pengunjungnya, secara cashflow jelas pemodalnya akan gulung tikar.

Pelajaran yang bisa diambil dari analisa diatas

pengalaman ikut job fair

Bagi para job seeker indonesia agar lebih hati-hati jika harus memutuskan mengikuti acara tersebut

Disarankan untuk memperhatikan penyelenggaranya, tanyakan pengalaman pada teman yang sudah hadir, atau jika anda sudah terlanjur masuk maka manfaatkan dengan sebaik-baiknya informasi yang ditawarkan, misalnya ada seminar atau penawaran training pengembangan diri atau perbaikan lamaran kerja kita, cermati dan kritisi dengan baik.

Jadikan kegiatan tersebut sebagai ajang menambah networking Anda, sebab tidak sedikit yang bisa memperoleh pekerjaan justru bukan dari bursa kerja yang diikuti namun justru dari teman yang dikenal di acara job fair.

Sekarang sudah banyak sekali situs-situs penyedia lowongan kerja yang bertebaran di internet, beberapa menawarkan fasilitas gratis.

Sebaiknya Anda manfaatkan dulu layanan tersebut sebelum harus keluar uang untuk mengikuti job fair.

Curhatan Seorang Pencari Kerja Setelah Mengikuti Bursa Kerja

pertanyaan saat job fair

Amir adalah seorang lulusan dengan IPK terbaik di kampusnya, karena ingin sekali mendapatkan kerja dengan gaji yang cukup baik, maka ia selalu mengikuti acara job fair yang gratis maupun berbayar.

Dalam kurun waktu 12 bulan saja ia telah mengikuti sebanyak 17 kali job fair di kota tempatnya tinggal bahkan sampai memberanikan diri meluncur ke luar kota seperti surabaya dan bandung hanya untuk megikuti kegiatan yang serupa.

Lalu apakah amir sudah mendapatkan pekerjaan?

Sampai artikel ini dituliskan, ia masih saja menganggur dan mengeluh betapa sulitnya bagi seorang fresh graduate memperoleh kerja.

Padahal biaya yang ia keluarkan tidaklah sedikit dan masih minta ke orang tua untuk dibantu.

Berkaca dari pengalaman amir tersebut, mungkin kita harus segera sadar bahwa dengan semakin canggihnya teknologi, sekarang setiap perusahaan sudah mulai mengurangi tenaga kerja manusia.

Semua kegiatan operasional sudah mulai digantikan oleh software dan robot (untuk pabrik).

Apalagi saat ini sudah sering kita dengar mengenai teknologi Artificial Intelligence (AI) dan Blockchain.

Kedua hal itu disebut-sebut akan menjadi momok menakutkan bagi para (calon) pekerja karena hampir seluruh fungsi di perusahaan akan tergantikan oleh kedua teknologi tersebut.

Jadi kedepannya jangan heran apabila sudah tidak ada lagi lowongan kerja yang terpampang di koran ataupun internet.

Satu-satunya cara supaya kita tetap bisa bertahan ialah dengan mulai berwirausaha kecil-kecilan untuk menghasilkan uang.

Baca artikel ini: Kenapa Anda Ingin Menjadi Wiraswasta

Jangan terpaku pada modal sebab banyak sekali bisnis yang bisa dijalankan walau tanpa perlu modal besar.

Di era digital ini, banyak sekali fasilitas yang dapat Anda manfaatkan seperti marketplace atau media sosial untuk berjualan.

Bagi yang saat ini sudah bekerja, ada baiknya segera melakukan antisipasi jika suatu saat perusahaan melakukan pengurangan tenaga kerja.

Jangan pernah terbuai dengan keadaan. Ingat, perkembangan teknologi sudah sangat masif dan tidak masuk akal.

Hemat uang Anda dan kurangi pengeluaran-pengeluaran yang sifatnya konsumtif, tabunglah uang secara disiplin.

Apabila kita sudah mengantisipasi sejak dini, niscaya nanti akan mampu bertahan menghadapi segala “ancaman” yang ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.